Lintasinfo.id – Setiap 26 Juli, dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove dalam melindungi kawasan pesisir.
Namun di Desa Patikang, Kabupaten Pandeglang, mangrove memiliki makna yang lebih dari sekedar benteng alami penahan abrasi. Bagi masyarakat setempat, mangrove juga menjadi sumber harapan baru yang membuka peluang ekonomi sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.
Transformasi tersebut tumbuh melalui kolaborasi masyarakat bersama berbagai pihak, termasuk PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) yang mendukung rehabilitasi mangrove sekaligus pengembangan pembibitan sebagai sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat pesisir.
Perjalanan itu berawal dari inisiatif Kelompok Baraya Patikang yang dipimpin Deden. Saat itu, kawasan mangrove di Patikang mengalami kerusakan akibat pemanfaatan kayu mangrove untuk bahan bakar dan material bangunan.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Deden bersama rekan-rekannya memulai pembibitan mangrove secara mandiri.
“Awalnya kami memulai dengan pembibitan mangrove karena melihat kondisinya yang memprihatinkan. Waktu itu saya bersama teman-teman memulai sendiri, belum mengajak masyarakat,” ujar Deden.
Dengan semangat untuk memulihkan kawasan pesisir, Deden dan rekan-rekannya mempelajari teknik pembibitan secara autodidak melalui berbagai referensi di internet hingga berhasil menghasilkan bibit yang siap ditanam.
“Kami belajar pembibitan awalnya dari video di internet. Setelah melakukan pembibitan, itu kami iseng membagikannya di media sosial. Ternyata ada yang berminat, lalu membeli bibit mangrove,” katanya.
Permintaan tersebut menjadi titik balik. Masyarakat mulai menyadari bahwa mangrove tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Warga yang sebelumnya menggantungkan hidup sebagai nelayan kini mulai menjadikan pembibitan sebagai sumber penghasilan tambahan.
Dalam empat tahun terakhir, Kelompok Baraya Patikang telah berhasil menjual lebih dari 38.000 bibit mangrove. Dengan harga rata-rata sekitar Rp5.000 per bibit, kegiatan pembibitan ini terus menunjukkan potensi ekonomi seiring meningkatnya kebutuhan rehabilitasi kawasan pesisir.
“Alhamdulillah dampaknya sudah mulai dirasakan. Anggota kelompok yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil melaut, kini memiliki tambahan penghasilan. Bahkan, mereka sudah memiliki tabungan yang bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelas Deden.
Selain memberikan manfaat ekonomi, pembibitan mangrove juga berkontribusi pada pemulihan kawasan pesisir. Setiap bibit yang ditanam membantu mengembalikan fungsi mangrove sebagai pelindung alami pantai dari abrasi sekaligus penyerap karbon yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim.
Dalam perjalanan tersebut, Chandra Asri Group menjadi salah satu mitra yang turut memperkuat pengembangan Kelompok Baraya Patikang melalui pembelian bibit mangrove untuk kegiatan rehabilitasi serta dukungan terhadap pengembangan fasilitas di kawasan ekowisata Patikang.
“Chandra Asri Group banyak mendukung kami. Selain membeli bibit mangrove, perusahaan juga membantu pengembangan fasilitas yang ada di kawasan ini, termasuk ekowisatanya,” kata Deden.
Bagi Deden, keberhasilan terbesar bukanlah jumlah bibit yang terjual, melainkan melihat kawasan yang dulu gersang kini kembali hijau dipenuhi mangrove. Ia berharap semakin banyak masyarkat yang terlibat dalam pembibitan mangrove sehingga manfaat ekonomi dan lingkungan dirasakan secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, kisah Patikang menunjukkan bahwa alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika mangrove dirawat bersama, yang tumbuh bukan hanya pohon-pohon di pesisir, tetapi juga harapan, ketahanan lingkungan dan peluang ekonomi bagi generasi yang akan datang. (Am/Red)






