Lintasinfo.id – Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten (Karantina Banten) menerima kunjungan kerja (study visit) dari perwakilan General Directorate for Agronomy (GDA), Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Kamboja di Kantor Pelayanan Bandara Soekarno Hatta pada Rabu, (08/04/2026). Kunjungan ini bertujuan memperkuat kerja sama internasional di bidang perkarantinaan serta mempelajari sistem karantina modern Indonesia.
Delegasi GDA–MAFF Kamboja hadir untuk melihat langsung penerapan sistem sertifikasi fitosanitari elektronik (e-Phyto) yang telah diimplementasikan oleh Barantin. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, serta keamanan dalam proses sertifikasi komoditas ekspor dan impor.
Kepala Karantina Banten, Duma Sari, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi bentuk kepercayaan internasional terhadap sistem karantina Indonesia yang terus berkembang dan adaptif terhadap teknologi.
“Kami menyambut baik kunjungan ini sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional. Pertukaran pengetahuan ini diharapkan mendorong peningkatan kualitas layanan karantina yang modern, transparan, dan terintegrasi,” ujar Duma.
Selain e-Phyto, delegasi juga mempelajari implementasi National Logistics Ecosystem melalui sistem Indonesia National Single Window (LNSW) yang terintegrasi dengan berbagai instansi terkait. Sistem ini berperan penting dalam mempercepat proses perizinan dan kelancaran logistik nasional.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi juga melihat secara langsung berbagai tindakan karantina yang dilakukan oleh petugas termasuk penggunaan X-Ray mobile untuk pemeriksaan media pembawa serta fasilitas laboratorium tumbuhan yang mendukung pengujian dan analisis organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).
Deputy Director of Plant Protection Sanitary and Phytosanitary Department, GDA–MAFF Kamboja, Heng Chhun Hy, menyampaikan apresiasi atas kesempatan tersebut. Ia menyebutkan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran selama dua hari di kantor pusat Barantin dan dilanjutkan di Banten.
“Kami memperoleh banyak pengetahuan, mulai dari sistem hingga implementasi di lapangan. Ini menjadi pengalaman berharga untuk pengembangan sistem karantina di Kamboja,” ungkapnya.
Ia juga menilai sinergi antara Karantina dengan Bea dan Cukai di Bandara Soekarno-Hatta berjalan sangat baik dan memudahkan eksportir serta importir dalam memenuhi persyaratan lalu lintas komoditas.
Melalui kegiatan ini, Barantin berkomitmen memperluas jejaring kerja sama global serta mendorong terwujudnya sistem perkarantinaan yang harmonis antarnegara, guna menjamin keamanan hayati dan mendukung kelancaran perdagangan internasional. (Am/Red)






